Hamil di Atas Usia 35 Tahun, Aman atau Tidak

Hamil di Atas Usia 35 Tahun, Aman atau Tidak?

Sebarkan info ini:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

Daftar Isi

Ditinjau oleh: dr. Qanissa Afianti Razzqy
Publish tanggal: Mar 3, 2021
Update terakhir: Mar 3, 2021

Hamil di atas usia 35 tahun tak jarang mengkhawatirkan. Meskipun tidak terlalu familiar, istilah kehamilan geriatri mengacu pada wanita yang hamil saat berusia 35 tahun atau lebih. Kebanyakan wanita sehat yang hamil setelah usia 35 dan bahkan 40-an memiliki bayi yang sehat. 

Namun, ada beberapa risiko yang perlu Anda perhatikan jika hamil di atas usia 35 tahun. Ini terkait dengan keamanan ibu dan bayi selama masa kehamilan. Risiko yang perlu Anda khawatirkan seperti kelahiran prematur, operasi caesar, hingga kemungkinan keguguran. 

Jadi, hamil di atas usia 35 tahun itu aman atau tidak? Simak informasi selengkapnya di bawah ini yang sudah Smarter Health rangkum dari banyak sumber terpercaya. Hubungi dokter spesialis kandungan untuk informasi lebih lanjut. 

Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek kisaran biaya?​

Pakai layanan gratis Smarter Health.

Hamil di Atas Usia 35 Tahun Tidak Mustahil

Penelitian menunjukkan bahwa hamil di atas usia 35 tahun memang sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin untuk hamil secara alami setelah usia tertentu. Namun, ada perdebatan tentang menggunakan usia 35 tahun sebagai batas kesuburan.

Salah satu alasan biologis mengapa lebih sulit untuk hamil di luar usia tertentu yaitu karena jumlah dan kualitas sel telur yang layak kian menyusut seiring bertambahnya usia. Sebaliknya, pasangan pria dapat menghasilkan 100 juta sperma sehari sepanjang umur mereka.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), 1 dari 4 wanita berusia 20-an sampai 30-an bisa hamil di setiap siklus menstruasi. Untuk wanita di atas usia 40 tahun, hanya 1 dari 10 yang akan hamil.

Data dari Center for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa pada tahun 2018, angka kelahiran dari wanita berusia antara 35 dan 39 tahun adalah 52,6 kelahiran per 1.000 wanita, serta 11,8 kelahiran per 1.000 wanita usia 40 hingga 44 tahun.

Risiko Hamil di Atas Usia 35 Tahun

Meskipun memungkinkan hamil di atas usia 35 tahun, tapi ada beberapa risiko yang harus Anda waspadai, seperti:

  • Butuh waktu lebih lama untuk hamil. Anda lahir dengan jumlah sel telur yang terbatas. Ketika Anda mencapai usia pertengahan hingga akhir 30-an, jumlah dan kualitas sel telur akan menurun. 
  • Sel telur lebih susah dibuahi. Sel telur wanita yang lebih tua lebih sulit dibuahi daripada sel telur wanita yang lebih muda. Jika Anda berusia lebih dari 35 tahun dan belum bisa hamil selama enam bulan, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan Anda.
  • Kemungkinan hamil anak kembar. Ini terjadi karena perubahan hormonal yang menyebabkan pelepasan banyak sel telur secara bersamaan. Penggunaan teknologi reproduksi berbantuan seperti IVF juga dapat berperan.
  • Diabetes gestasional. Jenis diabetes ini hanya terjadi selama kehamilan dan lebih sering terjadi seiring bertambahnya usia wanita. Mengontrol gula darah melalui diet dan aktivitas fisik sangat penting. Terkadang perlu obat juga. Jika tidak diobati, diabetes gestasional dapat menyebabkan bayi tumbuh lebih besar dari rata-rata yang berisiko cedera selama persalinan. 
  • Kelahiran prematur. Jika Anda memiliki diabetes gestasional, Anda berisiko kelahiran prematur, tekanan darah tinggi selama kehamilan, dan komplikasi pada bayi setelah melahirkan.
  • Tekanan darah tinggi selama kehamilan. Tekanan darah tinggi yang berkembang selama kehamilan lebih sering terjadi pada wanita yang lebih tua. Penyedia layanan kesehatan akan dengan hati-hati memantau tekanan darah, serta pertumbuhan dan perkembangan bayi Anda. 
  • Bayi berat lahir rendah (BBLR). Bayi prematur, terutama bayi yang lahir paling awal, umumnya memiliki masalah kesehatan yang rumit.
  • Operasi caesar (c-section). Ibu yang berusia lebih tua memiliki risiko komplikasi terkait kehamilan yang lebih tinggi yang dapat menyebabkan persalinan Caesar. Misalnya kondisi ketika plasenta menyumbat serviks (plasenta previa).
  • Kelainan kromosom lebih tinggi. Bayi yang lahir dari ibu yang sudah tua memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kromosom tertentu, seperti sindrom Down.
  • Risiko keguguran lebih tinggi. Keguguran dan lahir mati meningkat seiring bertambahnya usia, mungkin karena kondisi medis yang sudah ada sebelumnya atau kelainan kromosom janin. Penurunan kualitas sel telur, ditambah dengan peningkatan risiko kondisi medis kronis seperti tekanan darah tinggi dan diabetes, dapat meningkatkan risiko keguguran. 

Perawatan Kesuburan Tidak Mengatasi Infertilitas Terkait Usia

Jangan menunda-nunda mencari bantuan perawatan kesuburan, karena menjadi kurang berhasil seiring bertambahnya usia, kecuali jika Anda berencana menggunakan donor sel telur.

Menurut Society for Assisted Reproductive Technology (SART), tingkat keberhasilan pengobatan kesuburan sangat menurun setelah memasuki usia 40 tahun. Tingkat kelahiran hidup dari wanita berusia antara 35 dan 37 tahun adalah 42%, dan 26,6% untuk wanita usia 38 hingga 40 tahun. 

Data dari CDC menunjukkan bahwa persentase kelahiran hidup per siklus IVF untuk wanita di atas usia 40 tahun hanya 5,8%. Namun, jika menggunakan donor sel telur, tingkat keberhasilan meningkat hingga hampir 40%.

Saat melihat tingkat keberhasilan kehamilan untuk obat kesuburan seperti Clomid, atau prosedur kesuburan seperti IUI atau IVF, perlu Anda ingat bahwa bukan hanya usia, tetapi penyebab infertilitas juga menjadi faktor penting.

Pengaruh Gaya Hidup Sehat dengan Kesuburan Wanita

Pola makan dan gaya hidup dapat memengaruhi kesuburan. Makan lebih sehat, meninggalkan kebiasaan buruk yang berdampak pada kesuburan, dan mempertahankan berat badan yang sehat dapat membantu Anda lebih cepat hamil dan meningkatkan peluang keberhasilan perawatan kesuburan jika Anda memang membutuhkan perawatan.

Jangan lupakan juga terapi penyeimbang pikiran dan tubuh. Meskipun penelitian belum menemukan hubungan yang kuat antara terapi penyeimbang pikiran dan tubuh seperti yoga dan kesuburan, sebagian besar orang dapat memperoleh manfaat dengan menambahkan aktivitas pengurang stres ke dalam kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan tidak sehat dapat menurunkan kesuburan, tetapi mengubah gaya hidup tidak akan menghentikan penurunan kesuburan terkait usia. Meskipun Anda makan makanan yang seimbang, berolahraga teratur, dan tidak merokok, Anda tetap akan menua dan mengalami penurunan kesuburan terkait usia sama seperti orang lain. Oleh sebab itu, terapkan gaya hidup sehat sejak dini. 

Kebiasaan Sehat untuk Meningkatkan Kesuburan

Jangan berasumsi bahwa usia adalah satu-satunya alasan Anda tidak cepat hamil. Ketika berusia di atas 35 tahun, gaya hidup juga dapat berpengaruh saat Anda mencoba untuk hamil. Dokter mungkin menyarankan Anda untuk menerapkan beberapa perubahan gaya hidup sehat, seperti:

  • Berhenti merokok.
  • Kurangi konsumsi kafein.
  • Kurangi konsumsi minuman beralkohol.
  • Hindari makan banyak gula dan secara keseluruhan memilih pola makan yang sehat.
  • Pastikan Anda memiliki berat badan yang sehat, tidak kekurangan berat badan atau kelebihan berat badan.

Hubungi dokter spesialis kandungan jika Anda berencana hamil di atas usia 35 tahun atau ingin mendapat perawatan kesuburan yang tepat.

Referensi:
Mayo Clinic (2020). Pregnancy after 35: Healthy moms, healthy babies.
Rachel Gurevich (2020). 5 Things You Need to Know About Getting Pregnant After 35.

Sebarkan info ini:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

Info Kesehatan Terkait

Tinggalkan komentar

Your compare list

Compare
REMOVE ALL
COMPARE
0