gagal jantung

Hidup Dengan Penyakit Gagal Jantung

Lim Choon Pin - Dokter Jantung Singapura - Cardiology - Cardiology
Penulis:
Dokter spesialis jantung di Singapura

Sebarkan info ini:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

Daftar Isi

“Saya perlu dokter.”

Tidak semua orang berpikir secepat-tanggap itu ketika mereka berguling-guling di atas kasur karena tidak bisa bernapas, bahkan ketika sedang tidur. 

Anda mungkin merasakan jantung berdetak lebih cepat melebihi kecepatan Anda menghitung denyutnya. Ketika duduk, Anda mungkin menemukan pembengkakan yang tidak biasa pada kaki atau bahkan perut. 

Apa yang mungkin Anda tidak sadari, itulah momen Anda harus menemui dokter spesialis jantung.

Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek kisaran biaya?​

Pakai layanan gratis Smarter Health.

Penyakit jantung sama buruknya dengan wabah yang berkembang pesat di Bangladesh. 

Faktanya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi penyakit kardiovaskular sebagai penyebab mortalitas dan morbiditas di tahun 2018, dengan 3 dari 4 orang beresiko memiliki penyakit jantung selama masa hidupnya. 

Meskipun demikian, dari sekian banyaknya jenis penyakit jantung yang ada, yang harus dikhawatirkan melebihi yang lainnya mungkin adalah gagal jantung.

Permasalahan paling umum kedua yang didiagnosis oleh para dokter adalah gagal jantung. 

Tidak seperti namanya yang mengerikan, gagal jantung bukanlah kegagalan total jantung untuk melakukan fungsinya. 

Dokter spesialis jantung, dr. Lim Choon Pim, memberikan pendapat ahli mengenai masalah kardiologi umum dan gagal jantung di Mount Elizabeth Novena Specialist Centre of Singapore. 

Menurutnya, gagal jantung adalah sebuah kondisi medis, 

“Ketika jantung tidak memompa darah secara cukup efisien untuk memenuhi permintaan tubuh karena adanya penyumbatan pada arteri jantung, otot yang lemah atau kaku, atau bahkan abnormalitas struktural seperti ‘lubang’ pada jantung, kondisi yang bisa muncul dan dikenal sebagai gagal jantung.”

Kata kuncinya adalah “efisien”, karena gagal jantung bisa muncul dalam tingkatan dan tahapan yang berbeda-beda. Tetapi hal yang sedikit rumit adalah fakta bahwa gejala paling menonjol dari kondisi ini sering diabaikan. 

Jadi, pertanyaannya adalah: Siapa yang mungkin paling mengabaikan gejala gagal jantung?

  • Pertama adalah pemuda dalam posisi tertinggi dalam hidup mereka, yang cenderung tidak merasakan sakit sampai sebuah penyakit serius menampakkan gejala lanjutan yang menyebabkan penurunan kondisi fisik. Inilah yang merugikan bagi mereka, terutama ketika tanda-tanda gagal jantung tahap akhir terdeteksi sangat terlambat. 
  • Kedua adalah orang-orang yang rawan terhadap gaya hidup sedentari, terutama populasi orang tua di sebuah negara, tidak bisa menggerakkan tubuh mereka bahkan sedikit untuk mengetahui adanya gejala bahaya, atau menganggap gejala seperti nafas pendek-pendek dan palpitasi sebagai bagian dari penuaan dan tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya sakit.

Solusi yang tepat dari sikap acuh ini adalah sesederhana menjalankan gaya hidup sehat dan melakukan cek kesehatan rutin seperti yang disarankan dokter. 

Tetapi sebelum kita melompat ke cara-cara untuk melawan masalah-masalah yang ada terkait dengan penyakit jantung, penting untuk mengakui bahwa kondisi ini terjadi secara bertahap’ lebih tepatnya ada empat tahap gagal jantung, seperti penyakit kanker.

1. Gagal Jantung Tahap A

Gagal jantung dapat didiagnosis pada tahap pra-gejala, atau hanya pada penyakit lanjutan. Pada tahap pertama penyakit ini, pasien mungkin memiliki “resiko yang lebih besar terhadap gagal jantung.” Digolongkan sebagai pra-gagal jantung (gagal jantung Tahap A), kondisi seperti tekanan darah tinggi, arteri yang tersumbat, diabetes, atau bahkan hobi-hobi adiktif yang meliputi penyalahgunaan nikotin dan alkohol menempatkan seseorang dalam bahaya memiliki gagal jantung di masa depan. Konsultasi dengan dokter untuk menjaga faktor-faktor resiko ini tetap aman adalah pilihan terbaik.

“Modifikasi gaya hidup sederhana misalnya berhenti melakukan kebiasaan buruk seperti merokok, mengurangi konsumsi garam, dan melakukan latihan fisik secara rutin bisa berdampingan dengan pengobatan medis, yang telah mengalami banyak peningkatan selama sepuluh tahun terakhir,” jelas Dr Lim. 

Pengobatan dapat membidik penyakit jantung lainnya atau bahkan tekanan darah dan menurunkan resiko umum kondisi kronis yang dikenal dengan gagal jantung.

2. Gagal Jantung Tahap B

Tahap kedua dari kondisi ini (gagal jantung Tahap B) memiliki gangguan struktur jantung, tetapi belum terwujud menjadi gejala gagal jantung. Jangan salah, skenario ini tidak boleh disepelekan seperti munculnya serangan jantung, deteksi lubang atau obstruksi pada dinding ventrikel, atau bahkan penyakit katup jantung  yang pada akhirnya bisa menyebabkan pertumbuhan gejala gagal jantung.

Tetapi kabar baiknya adalah bahwa keseimbangan antara perubahan gaya hidup, pengobatan, dan pengamatan rinci terhadap gangguan jantung akan memastikan prospek kesehatan di masa depan. 

Secara berkelanjutan, Dr Lim menyarankan, 

“Aktivitas fisik yang baik untuk jantung dalam jangka panjang, pengobatan yang diketahui mengurangi mortalitas dan rawat inap di rumah sakit, serta melacak adanya gejala dapat memberikan kualitas hidup yang baik bagi penderita gagal jantung.” 

Terlebih lagi, operasi seperti intervensi pada penyumbatan koroner, atau perbaikan katup (yang merupakan “pintu masuk” di dalam jantung, memastikan aliran darah menuju arah yang tepat) bisa dipertimbangkan oleh dokter Anda.

3. Gagal Jantung Tahap C

Ini membawa kita menuju tahap ketiga (gagal jantung Tahap C). Pada tahap ini, pengukuran serius harus dilakukan karena kini pasien dapat dikatakan memiliki gagal jantung klinis. Gejala-gejala yang ada bisa terasa hanya dengan aktivitas fisik ringan. Yang harus dipahami adalah keparahan tanda dan gejala berbeda untuk setiap orang. 

“Sebagai contoh, jika Anda adalah seorang atlet yang berlari 5 kilometer setiap hari, namun dengan gagal jantung Anda akan kehabisan nafas hanya setelah 2 kilometer saja atau bahkan hanya 500 meter. Anda akan mendapati penurunan signifikan dibandingkan dengan batas terbawah Anda. Bahkan hanya berjalan beberapa anak tangga saja akan sulit untuk Anda, atau mungkin hanya berjalan melewati satu ruangan saja terasa seperti sebuah pekerjaan berat,” jelas Dr Lim.

Pada tahap ini, dokter mungkin adalah menyarankan tindakan seperti mengurangi asupan air dan garam. Penyebabnya sedikit menarik. Ketika jantung gagal untuk memompa cukup darah di seluruh tubuh karena otot jantung melemah, darah akan mengalir lambat pada pembuluh darah, menyebabkan kebocoran darah karena tekanan yang tinggi. Ini dapat mengakibatkan pembengkakan pada perut dan kaki, hilangnya nafsu makan, dan bahkan bisa menyebabkan air masuk ke dalam paru-paru, yang lokasinya tepat di sebelah jantung. 

“Pasien kehabisan nafas seperti mereka sedang tenggelam,” tegas Dr Lim. 

Inilah juga mengapa obat diuretik akan diresepkan dengan batasan cairan pada tahap ini. Selain itu, alat mirip pacu jantung yang disebut dengan implantable cardiac defibrillators (ICD), yang merupakan sebuah alat elektronik untuk mengawasi ritme jantung untuk mencegah gagal jantung juga disarankan atau diimplan pada pasien dengan fungsi jantung yang sangat lemah dan beresiko mengalami aritmia mematikan.

4. Gagal Jantung Tahap D

Kini kita sampai pada tahap akhir gagal jantung (gagal jantung Tahap D), ketika kondisi pasien tidak menjadi lebih baik bahkan dengan perawatan konvensional. 

“Setelah mencoba pengobatan untuk membuat jantung berdetak lebih cepat, pada satu titik akan terasa seperti ‘mencambuk kuda yang sedang sekarat.’ Dan inilah yang saat ketika Anda mungkin memerlukan ‘dorongan’ dalam bentuk ventricular assist device (VAD) yang juga dikenal sebagai pompa jantung buatan. Kualitas hidup yang baik masih mungkin dimiliki setelah operasi untuk menanamkan pompa ini berjalan lancar,” jelas Dr Lim.

VAD ditemukan untuk mendukung kerja jantung yang sudah rusak dan membuatnya tetap berfungsi. Tentu saja, transplantasi jantung juga bisa jadi pilihan, namun masa tunggu yang sangat lama dan keterbatasan pendonor, belum lagi fakta bahwa Bangladesh jauh tertinggal untuk masalah ini, keberadaan penyelamat elektronik ini bisa menolong sekitar 80 persen pasien untuk bertahan hidup lebih lama selagi mereka menunggu donor jantung.

“VAD secara spesifik adalah satu hal menarik dalam bidang gagal jantung. Pada dasarnya itu adalah jantung di dalam kotak,” komentar Dr Lim. 

Alat ini memompa darah dari bilik bawah jantung menuju seluruh tubuh dan sangat berguna bagi pasien dengan gagal jantung lanjutan, pada akhirnya akan menyelamatkan hidup mereka. Alat-alat ini semakin kecil dan ketahanannya semakin kuat selama satu dekade terakhir dan resiko operasi secara signifikan juga telah berkurang selama beberapa tahun terakhir.

Pada tahap ketika dilakukan pembedahan pada jantung, statistik penyakit jantung semakin memburuk saja. Entah itu kesehatan tidak diprioritaskan dalam kehidupan sehari-hari karena jadwal yang padat, selalu melewatkan pemeriksaan kesehatan, tidak menyadari adanya defisiensi anatomi, atau alasan-alasan idiopatik yang belum didiagnosa oleh dokter, gagal jantung harus tetap diperhatikan. Nasehat lama yang berbunyi “mencegah lebih baik daripada mengobati” adalah sebuah kebenaran yang tidak dapat dielakkan, dan semuanya diawali dengan sebuah pengakuan sederhana bahwa, 

“Saya harus melihat kondisi jantung saya.”

Penulis: dr. Lim Choon Pin, dokter spesialis tulang di Singapura. Diterjemahkan dari artikel When the heart fails-living with heart failure.

Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek kisaran biaya?​

Layanan kami 100% gratis!

Sebarkan info ini:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Info Kesehatan Terkait

Tinggalkan komentar

Layanan Gratis Kami

Mau berobat atau check up?

Isi form agar kami bisa menghubungi Anda

Your compare list

Compare
REMOVE ALL
COMPARE
0