sindrom bayi mati mendadak

Memulihkan Mental Orang Tua Pasca Kematian Bayi (SIDS)

Sebarkan info ini:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

Daftar Isi

Bayi berusia di bawah satu tahun yang terlihat sehat, bisa tiba-tiba meninggal tanpa sebab. Fenomena itu dikenal dengan sindrom kematian bayi mendadak atau sudden infant death syndrom (SIDS).

Wajar jika ada orang tua yang kehilangan anak akibat SIDS mengalami stres hingga depresi berat. 

Jika ini terjadi pada pasangan atau kerabat dekat Anda, jangan biarkan ia selalu menyalahkan diri sendiri.

Kenali apa itu SIDS, waspadai apa yang umumnya dirasakan sang orang tua pasca kematian bayi, dan ketahui apa yang bisa Anda lakukan untuk membantunya.

Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek kisaran biaya?​

Pakai layanan gratis Smarter Health.

Apa itu Sindrom Kematian Bayi Mendadak?

Sindrom kematian bayi mendadak atau sudden infant death syndrom (SIDS) adalah kematian bayi yang tidak dapat dijelaskan dan sulit diketahui penyebabnya, karena bayi biasanya meninggal saat sedang tidur. 

Meskipun belum diketahui penyebabnya, tapi tampaknya SIDS berkaitan dengan kelainan di bagian otak bayi yang menghambat pernapasannya. 

SIDS juga mungkin terjadi karena salah posisi tidur. Menempatkan bagian punggung bayi ketika ia tidur adalah posisi terbaik untuk menghindari bayi kesulitan bernapas. 

Respon Orang Tua Setelah Kehilangan Bayi Akibat SIDS

Kehilangan buah hati karena SIDS tentunya sangat berat bagi orang tua, seperti menyalahkan diri sendiri, tidak bisa menerima kenyataan, hingga depresi berat. 

Sebagai pasangan atau kerabat dekat, respon umum berikut ini bisa Anda waspadai dari mereka yang baru saja kehilangan bayi akibat SIDS:

  • Syok berat. Setelah kematian dan kehilangan buah hati, mungkin awalnya orang tua cenderung mati rasa, ini merupakan respon defensive guna melindungi perasaannya dari rasa sakit akibat kepergian bayi.
  • Tidak menerima kenyataan. Orang tua berpikir bahwa bayinya tidak mungkin meninggal dunia, sehingga mereka terus melihat putra atau putrinya tidur di ranjang atau mendengar tangisannya di malam hari.
  • Berputar di lingkaran yang sama. Setelah kematian dan kehilangan buah hati, pikiran orang tua mungkin terus berpusat pada mindset “seandainya kalau”, untuk mencari skenario terbaik agar anaknya bisa diselamatkan saat itu.
  • Kerinduan yang mendalam. Orang tua mungkin bisa menghabiskan waktu lima menit untuk berdoa agar bisa dipertemukan dengan anaknya kembali, sehingga mereka dapat memberi tahu sang anak betapa mencintainya mereka.
  • Kebingungan. Setelah kematian dan kehilangan anak akibat SIDS, ingatan orang tua mungkin mengabur. Saat sedang mengemudi, mereka mungkin lupa sehingga keluar dari rute perjalanan dan tidak mengingat destinasi awalnya. Terkadang orang tua mempertanyakan kewarasannya sendiri, meskipun sebenarnya mereka tidak mengalami gangguan jiwa. Rasa sakit yang teramat dalam dapat memengaruhi sistem emosi dan psikologis sang orang tua pada tingkat yang ekstrem. 
  • Rasa bersalah. Perasaan bersalah tampaknya menjadi salah satu respon yang paling umum dirasakan orang tua pasca kepergian bayi akibat SIDS. Sebagai orang tua, mereka mungkin terus mencari cara terbaik yang seharusnya bisa mereka lakukan pada hari itu untuk mencegah kematian sang buah hati.
  • Tidak berdaya. Selain perasaan bersalah, orang tua juga sering mengalami perasaan tidak berdaya yang berkaitan dengan perasaan bahwa mereka tidak mampu melindungi anaknya sendiri dari marabahaya.
  • Kemarahan. Menjadi emosional dan frustasi juga merupakan salah satu respon orang tua setelah kehilangan anak akibat SIDS. Orang tua merasa marah karena kematian anaknya tidak disengaja dan emosi ini dapat meningkat dari waktu ke waktu. Orang tua juga mungkin marah karena melihat hidup orang lain bersama anaknya sendiri seolah berjalan dengan baik, tetapi tidak untuk hidupnya.
  • Kehilangan harapan. Orang tua tidak hanya berduka untuk anaknya, tetapi juga untuk harapan dan impian yang sudah mereka rancang untuk kehidupan anaknya di masa depan. Kesedihannya semakin meningkat saat mereka mengharapkan anaknya mulai sekolah, lulus, kuliah, menikah, dan lain-lain. Waspadai adanya pemicu ini di masa mendatang. Biarkan sang orang tua berduka, karena ini adalah bagian normal dari proses penyembuhan.

Bagaimana Kematian Anak Memengaruhi Kualitas Hidup Orang Tua

Pukulan emosional yang terkait dengan kehilangan anak dapat memicu berbagai masalah psikologis dan fisiologis, seperti depresi, kecemasan, gejala kognitif, sakit fisik, dan rasa bersalah. 

Kondisi ini dapat bertahan lama setelah kematian anak dan berpotensi mengganggu kondisi kejiwaan. 

Orang tua yang berduka, meskipun fisiknya sehat, lebih mungkin mengalami depresi secara signifikan daripada orang tua yang tidak berduka namun kondisi kesehatan fisiknya lebih buruk. 

Menurut Psychology Today, orang tua yang kehilangan anak memiliki rentang hidup yang lebih pendek, meskipun ini tergantung usia dan jenis kelamin orang tua. 

Seorang ibu yang kehilangan anak cenderung meninggal lebih awal daripada ibu lainnya. 

Itu bisa saja terjadi karena kesedihan yang kunjung terselesaikan, kehilangan makna hidup, gejala post-traumatic stress disorder (PTSD), dan dampak biologis dari stres berkepanjangan yang berlarut-larut. 

Dalam menghadapi kematian dan kehilangan anak akibat SIDS, sangat penting untuk mengenali dampaknya terhadap kesehatan dan kualitas hidup orang tua secara keseluruhan. 

Berduka tidak salah, karena merupakan respon alami sebagai orang tua yang kehilangan anak, tetapi pastikan juga bahwa kebutuhan kesehatan sang orang tua tidak diabaikan begitu saja. 

Pemulihan Mental Orang Tua Setelah Kehilangan Anak

Kematian dan kehilangan anak bukan hal yang mudah dilupakan begitu saja. 

Namun, keluar dari kesedihan yang berlarut-larut juga menjadi tugas penting untuk menjalani kehidupan dengan optimis dan realistis. 

Berikut beberapa cara yang bisa orang tua lakukan sebagai langkah pemulihan pasca kehilangan anak akibat sudden infant death syndrom (SIDS), di antaranya:

  • Percaya bahwa sang orang tua sudah melakukan yang terbaik. Memiliki rasa bersalah yang teramat dalam merupakan respon yang paling umum dirasakan oleh orang tua yang kehilangan anak akibat SIDS. Maafkan diri sendiri yang tidak sempurna, dan percayalah bahwa orang tua sudah melakukan yang terbaik sebisanya.
  • Menerima kebahagiaan. Salah satu rintangan utama yang dialami orang tua ketika kembali ke kehidupan adalah ketidakmampuan untuk menerima kebahagiaan. Tidak masalah untuk tertawa di tengah duka, tersenyum dan berbahagialah. Karena kebahagiaan adalah salah satu pemicu agar orang tua mampu bertahan hidup. 
  • Melangkah ke depan. Sangat penting untuk menata masa depan sang orang tua sedikit demi sedikit. Fokus pada tugas-tugas lain yang perlu dikerjakan agar tidak terus tenggelam dalam kesedihan, seperti beres-beres, mencuci pakaian, atau memberi makan peliharaan. Dari kegiatan sederhana tersebut secara perlahan akan membuat sang orang tua bangkit dan melangkah ke depan untuk terus bertahan hidup.
  • Ingat hal-hal positif. Fokuslah pada peristiwa positif dan pengalaman baik yang sang orang tua miliki dengan anaknya daripada momen saat mereka kehilangan anaknya.
  • Sharing dengan orang lain. Banyak orang di sekitar sang orang tua yang ingin mendukung dan menyemangati pasca kematian anak, tetapi mereka tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada salahnya ajak bercerita kepada mereka. Biarkan teman dan keluarga mengetahui apa yang sedang sang orang tua rasakan dan butuhkan saat ini. Jangan pernah takut untuk meminta bantuan.

Sangat disarankan jika sang orang tua berkonsultasi dengan dokters spesialis kesehatan jiwa (psikiater) atau psikolog, terutama jika sang orang tua bukan tipikal orang yang mudah terbuka dengan orang lain. Psikolog atau psikiater akan membantu orang tua dalam menemukan metode pemulihan yang tepat.

Sebarkan info ini:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

Info Kesehatan Terkait

Tinggalkan komentar

Your compare list

Compare
REMOVE ALL
COMPARE
0